[INFO] Arsip KAA Menjadi yang Kelima Warisan Budaya Bangsa yang Diakui UNESCO


Ketua Harian UNESCO Arief Rachman, masuknya arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) dalam Memory of the World (MoW) menjadi lima warisan sejarah bangsa yang diakui UNESCO. Sebelumnya empat warisan sejarah bangsa, seperti Nagarakertagama, La Galigo, Babad Diponegoro, dan arsip VOC telah diakui UNESCO sebagai MoW.

"Pengakuan ini menjadi penting bagi generasi muda agar lebih dalam memahami sejarah," terang dia.

Sementara Anggota Komite Pengajuan Memory of the World (MoW), Wardiman Djojonegoro mengatakan, terpilihnya arsip KAA dalam WoW, karena secara sejarah memiliki keterikatan dengan misi kemerdekaan 29 negara Asia dan Afrika. Dia menambahkan, diajukannya KAA sebagai MoW ini sekaligus menjadi refleksi atas hubungan negara-negara Asia dan Afrika.

"Ini sebagai pengingat apakah 10 tujuan KAA sudah terlaksana. Selain itu untuk mempertegas hubungan kerjasama ekonomi dan ilmu pengetahuan antar negara-negara di Asia dan Afrika," ujar Wardiman di Jakarta.

Menurut Wardiman, pandangan masyarakat yang selama ini menganggap UNESCO hanya mencatat benda purbakala dan sejarah harus diubah. UNESCO sebetulnya ikut mencatat arsip sejarah manusia.

"Ini dilakukan karena beberapa peristiwa dan arsip sejarah di masa lampau banyak yang hilang," jelas dia.

Untuk itu, tim Komite MoW yang beranggotakan Arsip Nasional dan LIPI juga mengajak empat negara peserta KAA sebagai co-sponsor MoW. Keempat negara tersebut yaitu Myanmar, Pakistan, Sri Langka, dan India.

Arsip dokumentasi Konferensi Asia Afrika (KAA) yang terselenggara pada 18-24 April 1955 baru-baru ini ditetapkan menjadi bagian dari Memory of The World (MoW) oleh badan PBB untuk urusan budaya dan pendidikan dunia, UNESCO. Penetapan itu secara resmi dikeluarkan UNESCO pada 6 Oktober 2015 lalu.

Comments