[INFO] Pembuatan Akta Kelahiran Bisa Lewat Sekolah


Kabar gembira bagi warga Kabupaten Demak berusia 0-18 tahun yang belum memiliki akta kelahiran. Mereka bisa mengurus pembuatan akta melalui sekolah maupun madrasah tempat menimba ilmu. Upaya jemput bola ini dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dinpendukcapil) dengan menggandeng Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) dan Kantor Kementerian Agama (Kakemenag) Demak.

Selain itu kerja sama pelayanan akta kelahiran ini juga menggandeng Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Dinas Kesehatan (Dinkes), RSUD Sunan Kalijaga dan PDAM. Penandatanganan kerja sama dihadiri Bupati M Natsir dan pimpinan SKPD terkait di Gedung Bina Praja. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan, masih banyak anak yang identitasnya tidak atau belum tercatat dalam akta kelahiran.”Hal ini secara de jure berarti keberadaan anak dianggap tidak ada oleh negara. Baik nama, silsilah dan kewarganegaraannya tidak tercatat sehingga tidak terlindungi keberadaannya,” ujarnya.

Padahal tidak sedikit persoalan yang terjadi berpangkal dari manipulasi identitas anak. Begitu pula semakin tidak jelas identitas seorang anak, maka semakin mudah terjadi eksploitasi terhadap mereka. Ia meminta Dinpendukcapil agar terus meningkatkan sosialisasi pentingnya pembuatan akta kelahiran kepada masyarakat. Sadarkan masyarakat agar tidak takut dan enggan untuk mendaftarkan kelahiran anaknya dalam upaya mencegah munculnya segala bentuk eksploitasi bagi anak.

Sementara itu, Kepala Dinpendukcapil Demak Afhan Noor menambahkan, jumlah penduduk yang memiliki akta kelahiran baru 656.177 jiwa atau baru 54,21 persen dari total penduduk sebanyak 1.210.366 jiwa. Sedangkan penduduk usia nol hingga 18 tahun yang memiliki akta kelahiran sebanyak 275.819 jiwa atau 79,88 persen dari 345.288 jiwa.”Prosentase jumlah penduduk Demak usia nol hingga 18 tahun yang memiliki akta kelahiran masih di bawah dari target provinsi yakni 90 persen,” bebernya.

Karena itu, Dinpendukcapil menggandeng Dindikpora dan Kakemenag untuk memfasilitasi pembuatan akta kelahiran. Prosedurnya, cukup sederhana dimana masing-masing instansi tersebut akan menerima blangko dari Dinpendukcapil. Dindikpora, misalnya dapat mensosialisasikan pembuatan akta kelahiran melalui guru. Adapun siswa pemohon akta cukup mengisi blangko dan menyerahkan sejumlah dokumen seperti fotokopi surat nikah orang tua, salah satu KTP orang tua dan kartu kelahiran.

Lantas bagaimana orang tua mereka yang tidak memiliki buku nikah? Afhan mengatakan tidak perlu khawatir. Sebab disediakan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPJTM). Hanya saja surat ini tidak bisa digunakan oleh orang tua pemohon akta yang menikah siri.”Kalau orang tuanya nikah siri harus sidang isbat dulu di Pengadilan Agama. Lalu keputusan sidang dicatatkan ke KUA dan dimohonkan ke Dinpendukcapil, agar sang anak dibuatkan akta kelahiran,” imbuh Afhan didampingi Kasi Mutasi Penduduk Edy Sediyono.

Sedangkan mereka yang kehilangan buku nikah bisa menghubungi KUA dengan mengkonfirmasikan pernikahan kepada modin yang menikahkan. Di Demak, sekitar tahun 1983, pernah terjadi banjir bandang di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Karangtengah. Akibatnya, banyak warga yang kehilangan buku nikah akibat hanyut terbawa banjir. Beberapa desa itu antara lain Karangsari, Wonowoso, Rejosari dan Ploso.

Comments