[EDUPRENEUR] Kisah Perjalanan Muchadist, Entrepreneur di Bidang Bimbel


Orang tua mana yang tak menginginkan anaknya cerdas. Bahkan kalau perlu mereka mengikutsertakan sang buah hati ke bimbingan belajar bila pelajaran dari sekolah belum cukup. Tak heran, bila bisnis bimbingan belajar tak pernah sepi peminat.

Muchadist Ramadhan pun mencium peluang bisnis bimbingan belajar ini, dengan mendirikan Bintang Solusi Mandiri pada Februari 2008. Walau sudah banyak nama besar di bisnis ini, Muchadist tak gentar. Ia fokus menyasar siswa sekolah menengah pertama (SMP).

Tapi, usahanya itu tak langsung mulus. Pada awalnya, ia menawarkan program bimbingan belajar ke sejumlah SMP Negeri, tapi ditolak. "Alasannya karena SMP Negeri gratis dan agak riskan jika menarik biaya untuk bimbingan belajar," kata Hadist, panggilan akrab Muchadist.

Penolakan itu tak membuatnya patah arang. Di wilayah Kayu Manis, Jakarta Timur, pada tahun 2008, Hadist mengajak dua rekannya membuat program bimbingan belajar untuk anak kelas 6 sekolah dasar. Tak dinyana, program intens selama tiga bulan ini mampu memikat 100 siswa kelas 6 SD yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Meski dengan fasilitas seadanya seperti beralas tikar dan karpet serta tanpa kipas angin, program bimbingan belajar ala Hadist ternyata jempolan. "Dari 100 siswa SD, 95 di antaranya masuk SMP Negeri," ujarnya.

Berbekal debut manis tersebut, Hadist pun terus membenahi bisnis. Pada tahun 2009, dengan bekal uang pinjaman Rp 30 juta, ia fasilitas bimbingan belajarnya dengan kursi belajar, kipas angin, serta pembuatan modul sebagai panduan untuk siswa.

Selain itu, Bintang Solusi juga melebarkan sayap menyasar siswa kelas 1 SD hingga 3 SMP. Ia bilang, segmen ini yang belum digarap maksimal oleh tempat bimbingan belajar lain. "Rata-rata pemain besar fokus untuk SMA," ucap pria kelahiran 27 April 1988 itu.

Ternyata penciuman bisnisnya memang tajam. Dalam tempo singkat, siswa bimbingan belajarnya bertambah banyak. Ia pun lantas membuka beberapa cabang di Jakarta. Bahkan sejak 2009 pula, Hadist memberanikan diri untuk mewaralabakan usahanya.

Saat ini Bintang Solusi Mandiri telah memiliki 44 cabang, delapan di antaranya milik Hadist dan 36 cabang milik mitra tersebar di Jabodetabek dan Bandung.

Hadist memasang biaya bimbingan Rp 600.000-Rp 700.000 per semester per siswa. Per cabang rata-rata memiliki 125-150 siswa. "Omzet dari delapan cabang milik saya saja, Rp 100 juta per bulan," imbuhnya. Tapi, total omzet pada 44 cabang bisa mencapai Rp 6 miliar per tahun dengan total 5.000 siswa dan 500 karyawan.

Jiwa wirausaha sudah tumbuh di dalam diri Muchadist Ramadhan sejak kecil. Adalah ayahnya yang telah menumbuhkan jiwa wirausaha di dalam dirinya sejak dini. Kebetulan, sang ayah merupakan seorang wiraswasta yang membuka usaha agen majalah bekas di Jakarta.

Ia mengaku, sejak kecil, terbiasa melihat segala aktivitas ayahnya dalam memajukan usaha agen majalah bekas tersebut. Semangat wirausaha itu kemudian menular ke dirinya. "Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SD (sekolah dasar). Tapi, saat itu saya sudah tergugah berjualan donat di sekolah," ungkap finalis Wirausaha Muda Mandiri 2011 ini.

Muchadist melakukannya hanya untuk merasakan bagaimana caranya mencari uang. Semangatnya berwirausaha semakin menguat setelah usaha sang ayah bangkrut.

Padahal, saat itu ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. "Namun jadinya saya semakin bersemangat untuk berjualan," ungkap pria yang akrab disapa Hadist ini.

Sebagai pedagang cilik, Hadist menjual apa pun yang menurut dia berpeluang mendatangkan uang. Mulai dari kelereng, buah, hingga roti goreng. Dia terus melakoni kegiatan tersebut dari SD, SMP, hingga duduk di bangku SMA.

Dasar cerdas, meski sebagian besar waktu belajarnya tersita buat berjualan, tapi hal ini tak mengganggu prestasinya di sekolah. Bahkan, Hadist selalu memperoleh ranking di kelasnya. "Alhamdulillah, saya dapat cepat menyerap pelajaran lebih cepat dibanding teman sekelas saya yang lain,' ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, semangat wirausahanya pun semakin kuat. Saat duduk di kelas 3 sekolah menengah atas (SMA), ia mengikuti kegiatan "Pesantren Wirausaha" yang difasilitasi oleh sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

Padahal, saat itu sudah menjelang ujian akhir nasional (UAN). "Teman-teman sibuk belajar, saya ikut pesantren ini" ujarnya.

Tujuan dia mengikuti kegiatan itu semata-mata mendalami ilmu wirausaha. Meski sudah berpengalaman menjadi pedagang, tapi mental wirausahanya semakin dikuatkan di pesantren ini. "Saya menjual beragam produk, seperti madu, hewan kurban, hingga pernak-pernik wanita seperti jilbab," kisahnya.

Saking inginnya menjadi pengusaha, Hadist bertekad kuliah di kampus yang mampu mencetaknya menjadi pengusaha tangguh. Bak gayung bersambut, tahun 2006 ia diterima kuliah di kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK).

Saat itu, banyak yang menyayangkan pilihannya masuk di APP. Terlebih, semua kerabat dekatnya tahu, bahwa sejak kecil ia sangat menginginkan kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Tapi, ia terus melaju dengan pilihannya itu. Sambil kuliah, ia pun membuka beberapa usaha. Di antaranya membuka rumah makan meski harus gulung tikar dalam sebulan.

Tak lama dari situ, ia mendapat order pembuatan jaket almamater kampus. Tapi sial kembali menghampirinya. Karena kesalahan bahan, ia justru harus menanggung kerugian lebih dari Rp 40 juta. "Tapi saya tidak kapok," ujarnya.

Bagi Muchadist Ramadhan, berbisnis tak hanya mengejar keuntungan semata. Bisnis juga harus bermanfaat luas bagi orang lain. Karena itu, Hadist tak memungut biaya mahal bagi para siswanya. Toh, kualitas bimbingan tetap diutamakan.

Jiwa bisnis Muchadist Ramadhan memang kuat. Walau sempat merugi hingga Rp 40 juta dari bisnis pembuatan baju almamater, ia tak patah arang. Hadist, begitu ia disapa, justru tertantang mencoba bisnis lain. Usaha bimbingan belajar pun, ia lirik. Awalnya tak mudah, malah penawaran proposal bimbingan belajar ke sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) ditolak pihak sekolah.

Toh, Hadist tetap yakin dengan prospek bisnis bimbingan belajar ini. Selepas lulus kuliah tahun 2008, ia pun menekuni bisnis barunya ini dengan bendera Bimbingan Belajar Bintang Solusi Mandiri.

Kegigihan Hadist pun terbayar. Usahanya maju pesat dan kini sudah memiliki 44 cabang di sejumlah daerah. Total omzet cabangnya mencapai Rp 6 miliar per tahun.

Hadist bilang, motivasinya mendirikan bimbingan belajar tak semata untuk meraih keuntungan bisnis semata. Ada motivasi lain yang mendorong Hadist mengembangkan usahanya itu, yakni keprihatinan terhadap dunia pendidikan Indonesia yang berbiaya mahal.

Lelaki yang April nanti akan menginjak usia 24 tahun ini ingin mengubah citra itu. Maka itu, Hadist pun menawarkan bimbingan belajar dengan biaya terjangkau bagi kalangan bawah. Ia hanya pun hanya mematok tarif bimbingan belajar sebesar Rp 600.000 per semester atau Rp 100.000 per bulan.

Bukan itu saja, Hadist juga mempersilakan siswanya ikut bimbingan kapan saja, meski bukan jadwal les. "Sebisa mungkin kami ingin dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi siswa," tuturnya.

Bahkan, Hadist juga memiliki program bimbingan gratis bagi anak yatim yang berprestasi. Program ini wajib dijalankan di semua cabang Bintang Solusi Mandiri, baik cabang milik Hadist sendiri maupun milik mitranya. Kata Hadist, program ini memberikan pengajaran gratis bagi minimal 10 siswa selama setahun.

Menurut Hadist, program ini bagian dari sedekah Bintang Solusi Mandiri. Dengan cara tersebut, setidaknya setiap cabang telah bersedekah sekitar Rp 12 juta per tahun. "Ilmu yang diberikan pun juga bermanfaat bagi siswa tersebut," kata dia.

Kini, Bintang Solusi Mandiri sudah memiliki sekitar 5.000 siswa. Hanya dalam tiga tahun, usaha Hadist ini berkembang pesat. Resepnya, Hadist begitu cerdas membuat konsep bimbingan belajar dengan metode fantastic learning. Metode ini menarik minat orang tua memasukkan anaknya ke bimbingan belajar ini. Apalagi, biayanya juga terjangkau.

Hadist menjelaskan, metode fantastic learning ini dirancang agar siswa bukan sekadar cerdas intelektual tapi juga cerdas emosional dan spiritual. Ia mencoba mengembangkan metode relaksasi dan perenungan dalam belajar, sehingga efektif mendorong motivasi belajar siswa.

Berkat metode ini pula, banyak orang yang berminat menjadi mitra bimbingan belajar ini. Lagi pula, biaya franchise fee yang dipatok Hadist tak memberatkan dan dipungut per tahun. Selain agar tidak memberatkan, cara ini ditempuh agar si mitra bisa mengevaluasi bisnisnya setiap tahun.

Comments