[RESENSI FILM] Kartini (2017), Film Edukasi Sejarah Perjuangan Emansipasi Wanita


Judul film: Kartini (2017) / Genre: Drama / Rilis: 21 April 2017 / Sutradara: Hanung Bramantyo

Film Kartini (2017) menceritakan tentang kisah dari Pahlawan Nasional, Raden Ajeng Kartini. Usianya masih 10 tahun saat itu. Tapi keinginannya untuk sekolah tinggi, Pintar Fasih berbahasa Belanda.

Buku-buku dia lahap Bahkan selalu dicatat dan didiskusikan jika menggelisahkan. Gurunya menyukai dia begitupun teman-temannya. Tapi sayang, dia harus masuk pingitan di usia 12 tahun. Masuk pingitan berarti disiapkan untuk menjadi Raden Ajeng. Menjadi Isteri seorang bupati agar mewarisi keturunan ningrat. Sebagai anak keturunan Bupati Ningrat dia harus mewarisi dan mewariskan darah ningratnya. HARUS! Tapi dia berontak melawan. Akibatnya, dia dibenci oleh keluarganya Meski ayahnya sangat mendukung, tapi adat telah menggariskan. Ayahnya tak berdaya.

Panggil aku Kartini saja, tanpa Raden Ajeng. Begitulah yang selalu dia katakan dihadapan adik-adiknya sebagai wujud pemberontakannya. Suatu ketika, seorang pejabat pedidikan dan Kebudayaan Belanda Tuan Ovink-Soer meminta RM Sosroningrat ( ayah Kartini ) untuk melonggarkan pingitannya. Maka dibukalah pintu kadipaten lebar-lebar untuk Kartini. Diajaknya dia melawati ke daerah- daerah, bertemu dengan rakyat, pembesar dan pejabat. Kartini bahagia dan dia mendapatkan kebebasannya, meski masih dalam pantauan ayahnya. Rupanya kecakapan Kartini membuat jatuh hati Abendanon, pejabat pendidikan dan Kebudayaan Batavia. Dari Abendanon Kartini memperoleh tawaran bea siswa ke Belanda. Kartini sangat senang Tapi, lagi-lagi ayahnya melarang.

Sebetulnya sang ayah sangat memahami keinginan Kartini. Apalagi RM Sosroningrat dikenal sebagai seorang keturunan intelektual. kakek Kartini dikenal sebagai bupati yang memperjuangkan pendidikan untuk pribumi. Karenanya, melarang Kartini sekolah adalah hal yang bertentangan dari Sosroningrat. Tapi, sosroningrat tak berdaya dia mendapat tekanan dari keluarga. Kakaknya, RM Hadiningrat, bupati Kudus, menganggap perlakuan Sosroningrat yg memberikan kelonggaran terhadap Kartini sudah melampaui batas. Karena itu, meski berat hati, sosrokartono melarang Kartini mengambil beasiswa ke Belanda. Kartini lagi-lagi terluka sebagai obatnya, Kartini minta ijin ayahnya mendirikan sekolah buat perempuan. Ayahnya mengijinkan, Kartini bahagia. Bersama adiknya, Roekmini dan Kardinah, Kartini mendirikan sekolah.

Bersamaan dengan itu, Pemerintah Belanda sedang ditekan oleh negara-negara koloni Internasional untuk membuktikan manfaat kolonialisasinya bagi penduduk pribumi jajahan. Medadak Kartini menjadi salah satu sosok yang menjadi sorotan. Utusan dari Gubernur Jenderal Batavia datang ke Jepara mencari Kartini. Tujuannya adalah membawa Kartini ke Batavia, memfasilitasi keinginan Kartini termasuk bea siswa ke Batavia. Pintu kembali terbuka untuk Kartini. Tapi keadaan sudah berubah, ayah Kartini sudah sakit-sakitan. Kartini enggan menambah pikiran ayahnya dengan keinginan-keinginannya.

Dilain pihak, kehadiran utusan gubernur Jenderal ke Jepara membuat rasa cemburu banyak pihak. Khususnya RM Hadiningrat. Dengan berbagai macam cara, Hadiningrat mencoba menghalangi Kartini memperoleh kesempatannya. Dari menekan Sosroningrat (adiknya) secara politis, hingga mengirimkan surat lamaran menikah disertai ancaman untuk diguna-guna. Sosroningrat semakin tertekan yang mengakibatkan sakitnya makin parah. Kartini bimbang. Jika dia memenuhi beasiswa ke batavia maka dia akan meninggalkan ayahnya dalam keadaan tertekan oleh adat dan keluarga. Tapi jika dia menerima lamaran dari Hadiningrat, masa depannya dan sekolah perempuan yang dia dirikan bersama adik- adiknya akan karam.

Bagaimana Kartini bisa melepaskan diri dari keadaan itu?

Comments