[INOVASI] Mahasiswa UM Ciptakan Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Menggunakan Bambu dan Kayu


Keterbatasan media pembelajaran untuk siswa masih banyak dialami oleh beberapa sekolah di Indonesia. Keterbatasan itu disebabkan oleh kurangnya dana, kurangnya pendidik, kurangnya dukungan dari masyarakat, dan letak geografis yang sulit terjangkau.

Latar belakang tersebut yang mendasari 5 mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Malang (UM) untuk membuat media pembelajaran berbasis kearifan lokal, bertajuk MEPE-TEBU.

"MEPE-TEBU adalah singkatan dari media pembelajaran - tower building, yaitu media pembelajaran dengan menyusun sebuah menara dari bahan kayu dan bambu tanpa ada yang roboh untuk pembentukan pendidikan karakter anak," terang Fais Qur’anianto pada Kamis, (15/6/2017).

Penyusunan menara, menurut timnya, sejalan dengan pembelajaran untuk anak usia sekolah agar dapat tetap aktif dalam pembelajaran serta guru juga tetap memberikan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

"Dalam media pembelajaran tersebut terdapat tiga tipe, yakni tipe balok, tipe bambu, dan tipe kotak," kata Fais. Tipe balok penyusunannya adalah terdiri dari tiga buah balok pada tiap tingkatan dan siswa mencari jawaban hanya pada balok tersebut. Tipe bambu yaitu dengan cara siswa mencari kata kunci yang telah disebar kemudian menempelkan pada bambu dan menyusun bambu membentuk menara. Sedangkan tipe kotak adalah siswa mencari kata kunci kemudian menempelkan pada kotak dan menyusunnya membentuk menara, tetapi tidak menggunakan tangan melainkan menggunakan benang yang telah disiapkan.

"Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelas 1 sampai kelas 3 di seluruh sekolah dasar di Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang," jelasnya. Hasilnya, penerapan ketiga tipe MEPE-TEBU itu dapat membantu mempermudah siswa dalam menerima, dan memahami suatu mata pelajaran, dan membantu pembentukan pendidikan karakter siswa.

"Media pembelajaran Tower Buildings baik tipe balok, bambu, dan kotak juga menjadi media pembelajaran yang berbasis kearifan lokal yang dapat ditemui dan dibuat dengan mudah. Sehingga guru tidak lagi kesulitan mencari media pembelajaran," tuturnya.

Kendala yang dialami Fais dan keempat temannya adalah sifat siswa yang beragam, yang ternyata sangat berpengaruh dalam pelaksanaan penerapan ketiga tipe media pembelajaran Tower Buildings.

"Ini menjadi saran bagi guru agar melakukan pendekatan yang lebih mengedepankan keaktifan, kreativitas, kemandirian, dan inovasi bagi siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran," tutupnya.

Comments