[RISET] Ini Keuntungan Menguasai Berbagai Bahasa


Percaya tidak percaya, sebelum tahun 1960, para peneliti menyimpulkan bahwa anak-anak yang belajar bahasa asing dianggap memiliki kecacatan.

Seperti yang akan dijelaskan Mia Nacamulli pada video TED-Ed di bawah, anak-anak yang bilingual menunjukkan reaksi yang sedikit lamban pada beberapa tes bahasa. Dulu orang-orang membuat hipotesa bahwa itu adalah tanda jika anak tersebut memiliki kelainan mental. Namun sekarang para peneliti tahu bahwa belajar bahasa asing sebenarnya menakjubkan dan merupakan salah satu cara untuk membuat otak kita tetap sehat.

Tentunya tidak akan secara langsung membuat Anda menjadi lebih pintar, tapi Nacamulli menjelaskan bahwa sekarang menjadi seorang bilingual akan melatih otak Anda untuk menjadi lebih kuat, kompleks dan sehat. Dan lagi jika Anda masih muda, Anda dapat bonus yang bisa melengkapi hari tuamu. Yaitu menjadi bilingual yang fasih. Dan menggunakannya pada berbagai hal yang ditemui sehari-hari.

Lalu sebenarnya apa saja keuntungan menjadi seorang bilingual?

1. Menguasai dua bahasa (atau lebih) mampu mengubah struktur otak Anda

Para ilmuwan telah mengobservasi bahwa menguasai beberapa bahasa bisa membuat saraf otak makin aktif dalam melakukan berbagai tugasnya. Secara garis besar, ini semacam senam atau olahraga untuk otak!

2. Menguasai bahasa asing juga meningkatkan kemampuan otak

Studi terbaru menunjukkan bahwa reaksi lamban dari tes bahasa tersebut merupakan refleksi dari usaha otak untuk mengganti satu bahasa ke bahasa lainnya.

3. Menguasai bahasa asing bisa mencegah alzheimer dan demensia hingga empat atau lima tahun!

Ketika para bilingual dibandingkan dengan monolingual, pasti akan terasa bedanya. Dan meskipun beberapa riset kognitif membuktikan bahwa mereka masih memiliki beberapa kesamaan, namun dampak jangka panjangnya akan jauh berbeda. Terlebih jika kita belajar bahasa asing dari usia dini.

4. Ada teori bahwa anak-anak bilingual juga bisa bilingual secara emosional.

Bagian dari otak yang semakin kuat ketika berbicara beberapa bahasa akan melibatkan sisi otak yang bertugas untuk 'menyalakan' fitur emosi dan kebutuhan sosial. Dan itu dinamakan hipotesa periode kritis.

Selisih jarak hemisphere akan meningkat seiring pertumbuhan usia, jadi ketika kita masih kecil dua sisi otak akan bekerja layaknya plastik dan siap untuk bekerja sama belajar bahasa asing. Nacamulli juga mengatakan bahwa ini juga penyebab mengapa anak-anak cenderung emosional ketika mereka belajar beberapa bahasa sekaligus.

Berbicara soal bahasa asing, belajar bahasa asing akan membuat otak kita menjadi super, dan membuat anak-anak kita nantinya akan cerdas. Dan jelas itu bukanlah keterlambatan mental, namun adalah 'kekuatan super'. Siap belajar bahasa baru?

Comments