[TIPS] Anak Anda Tidak Semangat Sekolah? Mungkin Ini Penyebabnya


Tidak Semangat Sekolah : Tahun ajaran baru kini sudah bergulir memasuki minggu-minggu berikutnya. Ada di antara anak-anak yang tetap penuh semangat berangkat ke sekolah, tapi ada pula yang sebaliknya.

Dari hari ke hari, jika diperhatikan, anak justru menurun minatnya. Dibangunkan pagi malas-malasan. Pulang sekolah tidak ada keceriaan. Kenapa, ya?

Berbincang dengan Anna Surti Ariani, psikolog anak, terurai banyak faktor penyebab yang membuat anak-anak mendadak kehilangan semangat bersekolah. “Bisa dari internal dan eksternal,” buka wanita yang akrab disapa Nina.

“Untuk anak-anak yang baru kali pertama bersekolah dan anak-anak yang sudah agak dewasa, penyebabnya bisa persis sama, bisa juga berbeda. Penjabaran berikut mungkin bisa membantu orang tua untuk lebih mengenali akar masalah yang terjadi pada anak,” lanjut psikolog yang biasa menangani kasus-kasus pada anak.

Faktor internal 

Pada anak yang baru kali pertama masuk sekolah, anak-anak TK atau anak kelas 1 SD, ada kecenderungan anak takut berpisah dengan orang tua. Pada hari pertama (atau mungkin pekan pertama) orang tua boleh mengantar, namun pada minggu-minggu berikutnya orang tua tidak bisa lagi menemani—entah karena mulai keluar larangan orang tua menemani anak atau orang tua yang sudah tidak bisa lagi cuti dari pekerjaan.

“Dari semula menemani, lalu tiba-tiba tidak bisa lagi menemani, ada rasa seperti ditipu pada anak. Ini bisa menjadi salah satu penyebab anak jadi malas ke sekolah lagi,” beri tahu Nina.

Faktor internal paling sering terjadi berikutnya adalah learning disorder (gangguan belajar) pada anak. Mereka adalah anak-anak dengan perkembangan yang kurang berjalan baik, sehingga tidak mampu mengikuti proses belajar di sekolah.

“Pelajaran dan kesibukan dari minggu ke minggu semakin padat. Ini akan menjadi masalah bagi mereka. Termasuk di dalamnya anak-anak penderita disleksia atau disgrafia. Maka mereka akan mudah menyerah dan enggan datang ke sekolah lagi,” papar Nina.

Faktor eksternal

Penyebab dari luar bisa datang dari lingkungan sekolah, orang-orang yang ada di sekolah, yaitu teman-teman atau guru-guru. Nina bercerita berdasarkan pengalamannya sendiri dengan salah satu anaknya. Dulu, anaknya yang baru masuk sekolah, mengeluh tidak betah di sekolah karena ada salah satu temannya yang terlalu berisik—entah itu rewel atau sering menangis.

Bagi anak yang terbiasa dengan ketenangan, situasi baru yang begitu berbeda dengan kesehariannya itu akan sangat terasa menganggu.

“Anak-anak yang sebetulnya tidak bermasalah, jadi merasa kurang mendapat perhatian dari guru, yang sepanjang hari, mungkin, sibuk mengurusi yang rewel,” jelas Nina.

Lalu, ada pula faktor gangguan dari teman-teman di sekolah yang iseng atau mengarah pada kekerasan. Misalnya, ada teman yang terus-menerus mengganggu dan itu dirasa menyebalkan oleh si anak. Atau pada anak-anak yang lebih dewasa, tindak kekerasan bisa dalam tingkat yang lebih tinggi daripada sekadar mengganggu.

“Anak-anak yang mengalami kekerasan sangat mungkin merasa tidak betah di sekolah,” Nina menuturkan.

Faktor eksternal tidak menutup kemungkinan datang dari orang-orang dewasa. Antara lain dari guru-guru di sekolah dan orang tua di rumah. Ada beberapa anak yang mudah trauma dengan perlakuan guru yang dirasa tidak menyenangkan. Ada pula guru yang memang kurang memberi motivasi dalam pelajaran.

“Tapi, yang lebih perlu diperhatikan, adalah perilaku orang tua sendiri di rumah. Apakah telah cukup memberi lingkungan yang kondusif untuk anak?” tanya Nina.

Orang tua yang kerap bertengkar di depan anak bisa menjadi salah satu penyebab. “Tidak hanya orang tua (kandung), tapi juga orang-orang lain yang ada di rumah yang membuat anak tidak betah,” lanjutnya.

Solusi

Bagi Anda, orang tua dengan anak-anak yang belum masuk sekolah, ada baiknya melakukan pencegahan agar kemunduran minat anak bersekolah tidak sampai terjadi. Berikut uraian yang dijabarkan Nina.


  • Kondisikan rumah sedamai mungkin. Usahakan tidak terdengar anak—jika pertengkaran tidak terhindarkan.
  • Jangan melemahkan anak dengan selalu membantunya melakukan apa pun atau menyuguhi mereka dengan gawai dan televisi. Usahakan sedini mungkin anak beraktivitas menggunakan seluruh panca indranya.
  • Tujuannya bukan sekadar melatih kemandirian, melainkan untuk meningkatkan koordinasi motorik anak.
  • Koordinasi motorik yang buruk, misalnya, tidak bisa membedakan kanan dan kiri dengan baik, anak akan mendapatkan kesulitan-kesulitan lain di sekolahnya. Bisa berupa gangguan belajar atau komentar-komentar negatif dari teman-teman, yang kemudian akan membuat anak tidak kerasan bersekolah.
  • Lakukan persiapan sesuai kebutuhan anak. Misalnya, anak yang tidak terbiasa bangun pagi, tentu akan kesal ketika dipaksa bangun pagi. Jauh-jauh hari sebelum masuk sekolah, orang tua bisa mulai melatih anak agar terbiasa dengan rutinitas barunya kelak.
  • Selalu sampaikan hal-hal positif tentang sekolah. Beri tahu anak bahwa sekolah adalah tempat menyenangkan, karena mereka akan bertemu teman-teman dan bermain bersama. Juga ada guru-guru yang akan mengajarkan hal-hal baru. Biasakan ajak anak ke sekolah barunya sebelum tahun ajaran baru dimulai.
  • Jika anak telanjur mengalami kemunduran semangat bersekolah, ada baiknya orang tua mencari tahu akar masalahnya dan bicarakan dengan pihak-pihak terkait, seperti guru atau kepala sekolah, atau bisa juga sesama orang tua murid. Terutama untuk anak yang mengalami learning disorder, mintalah bantuan ahli untuk mengatasinya.

Comments