[RESENSI WAHANA] Berwisata Sambil Belajar Sejarah 'Orang Rantai' di Museum Kota Tua Sawahlunto


Akhir pekan adalah moment dinanti oleh sebagian orang untuk melepas lelah atau sekedar merefresh diri setelah berkecamuk dengan rutinitas padat hampir seminggu penuh.

Nah, jika Anda yang saat ini berada di Sumatera Barat dan belum memutuskan kemana tujuan wisata di akhir pekan ini, maka wisata sejarah Museum Gudang Ransum di Kota Tua Sawahlunto bisa dijadikan pilihan.

Museum Gudang Ransum yang terletak Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto ini berada sekitar 30 kilometer atau 1 jam perjalanan dari Kota Solok.


Yang sangat menarik dalam destinasi ini adalah dimana pengunjung bisa merasakan kehidupan 'orang rantai' (para tahanan di zaman penjajahan.red) yang mengisahkan tentang kehidupan dan sisi kelam dari masa masa penjajahan dan pengambilan Batubara yang di pimpin oleh tangan-tangan besi orang Belanda.

Kasi Permusiuman dan Kebudayaan Kota Sawahlunto, Desri Fahmi mengatakan, spot wisata sejarah ini merupakan sebuah kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara yang ketika itu berjumlah hingga ribuan.

Gedung museum sendiri dibangun pada 1918 sewaktu penjajahan Belanda. Dapur umum ini dilengkapi dua buah gudang besar dan steam generator (tungku pembakaran) untuk memasak 3.900 kg beras setiap hari bagi para pekerja tambang batu bara atau yang disebut juga orang rantai.

"Pada tahun 2005 kawasan ini dibuka resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla," tuturnya.

Dari depan Museum Gudang Ransum yang namanya ditulis pada gerbang masuk dengan menggunakan ejaan lama. Bangunan beratap seng di sebelah kiri adalah gedung utama yang menyimpan koleksi museum.

Sebuah cerobong beton tampak menjulang di kejauhan. Museum ini berbeda dengan museum umumnya yang ada di Indonesia. Koleksi museumnya berjumlah 150 buah, belum termasuk koleksi foto lama yang berjumlah lebih dari 250 buah.

Dipajang juga koleksi kuali, rangsang, dan beragam peralatan dapur umum berukuran besar. Selain itu, ada foto-foto pekerja paksa yang kakinya dirantai, yang disebut Orang Rantai, pakaian mandor, pakaian pekerja dan koki, perlengkapan tambang batubara, baik yang modern ketika itu dan yang tradisional, serta contoh batu bara.

Di sayap kanan depan terdapat ruang audio visual, berpendingin dan dengan tempat duduk yang nyaman, dimana Anda bisa melihat video dokumentasi sejarah pertambangan batubara di daerah Sawahlunto.

"Ada Sebuah bangunan penunjang dapur umum, berupa gedung mesin uap (power stoom), yang berada di belakang gedung utama museum ini," kata Desri menjelaskan.

Di dalam kompleks museum juga terdapat gudang persediaan bahan mentah, tungku pembakaran, pabrik es batangan, penggilingan padi, dan rumah pemotongan hewan yang letaknya agak terpisah.

Comments